Sabtu, 08 Juni 2013

Hai Sahabat :)

Malam ini begitu dingin, dingin sekali. Aku pergi keluar untuk makan, bersama seorang teman. Aku memesan sup daging dan secangkir teh hangat. Untuk memulihkan staminaku yang hampir habis. Hari ini begitu lemas rasanya. Hampir aku tidak keluar kost. Pagi tadi kuhabiskan waktu untuk membersihkan kulkas dan lemari. Merapikan kamar agar terlihat seperti tempat ynag layak untuk dihuni. Lalu dilanjutkan pergi ke masjid untuk mendengarkan nasehat agama. Setelah kembali pulang aku lantas berhadapan dengan netbook putihku, mulai dengan mengerjakan tugas yang tidak ada hentinya mengalami gangguan. Lalu sejenak aku membuka jejaring sosialku, browsing, dan menulis tentunya. Hal ini aku lakukan sampai sore hari. Sangat tidak produktif memang. Tapi dalam kegiatan itu, aku mencoba menjalin komunikasi lagi dengan orang yang awalnya ingin aku jauhi karena aku merasa kehadiranku mengganggu hidupnya. Namun, aku teringat beberapa dalil yang menyebutkan dosa jika memutus tali silaturahim atau tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Lalu aku memulai untuk menyapanya, dan mencoba seperti biasa adanya, walaupun masih sulit.

Sepulang kami dari makan malam, aku langsung berlari menuju kamar mandi untuk mencuci kaki. Ketika aku menuju ke kamar, handphoneku bergetar. Telepon masuk rupanya. Telepon dari teman...tidak! dari sahabatku semenjak SMA, Caesar. Ya, Cae menelponku. Setelah kemarin dia berusaha menelponku tapi tidak sempat terangkat olehku, akhirnya dia menelpon lagi. Aku sangat senang. Dengan gegas kujawab telepon darinya. Dia memprotes mengapa baru aku angkat telepon darinya. Dengan sedikit bergurau aku jelaskan alasannya. Lalu pembicaraan kami berlanjut. Bukan kabar yang ia tanyakan, melainkan soal kuliah dan kisah percintaan -_-. Kujawab kuliahku lancar saja. Sehingga dia memberikan satu kondisi yang harus kupenuhi. Dengan janji, apabila kondisi itu dapat kupenuhi, dia akan memberikanku hadiah berupa barang hasil karyanya sendiri (handmade).

Sengaja tidak kujawab pertanyaannya yang kedua, karena tidak ingin membahas hal demikian. Dia terus mendesakku. "Siapa cowok yang udah kena tipu daya bunda?" tanyanya. Bunda, begitulah dia memanggilku. Dengan sedikit kesal aku menjawabnya,"Kagak ada." Dia terus mendesakku hingga akhirnya aku menjawab, 
"Kamuuu..."
"Bunda kan emang bikin aku melting dari duluuuu"
"Hahahaha, mau muntah nih."
"Hahaha, kok muntah. Aku beneran lho, jangan muntah. Bunda ada cerita apa?"
"Ada cerita, tapi sediih..."
"Yah, bunda jangan sedih terus dong..Bunda harus semangat, sebentar lagi kan UAS"
"Iyaa ini lagi mencoba normal kembaliii..."
"Iyaaa bunda jangan sediiih yaa, kan ada Caee.."

Selama telepon suara darinya terdengar sangat rusuh. Aku curiga, pasti dia menelponku sambil berkendara. Dan ternyata benar. Padahal dia tau akan kena omelanku jika melakukannya. Tapi dia selalu punya alasan untuk membangkang, ah dasar botak. Rupanya dia sedang perjalanan untuk berburu sup buah. Dia senang sekali menelpon atau mengirim pesan saat berkendara. Lalu pembicaraan kami melebar kemana-mana. Topik yang menjadi perbincangan kami, mulai dari kuliah, kisah cinta, rencana pernikahan, rencana jumlah anak yang diinginkan, minta dibuatkan masakan dan kue, berencana main ke Jogja, burjo,  merencanakan buka bersama di rumahku, dan banyak lagi. Lalu aku teringat akan ceritanya dia yang menjelaskan bahwa dia diterima kerja di Singapore. Lalu kutanyakan hal itu padanya.
"Oh ya, kamu kapan berangkat ke Singapore?"
"Kok Singapore? Jangan Singapore lah, Jepang ajaa"
"Hah?" (aku bingung dan aku pikir dia bercanda sehingga kutanggapi saja)
"Iyaaa ke Jepaaang"
"Waaaaa, akuuu ikuuuuuuut aku ikuuuut"
"Ayooo bunda ikuuut, nanti aku selipin di ketekku"
"Heeeeeeh, jangan nanti nyampe sana bunda mati kebauan"
"Hahaha, yaudah aku taruh di hidung aja, ntar kalo udah sampe aku hembusin terus disiram air panas biar mengembang"
"Dikira upiil apaaaa? hahahahahhahahhahaha"
"hahaha, doain aku ya bunda biar jadi orang sukses, nanti bunda aku ajak ke Jepang"
"Siaaaap"
"Tapi bunda pake ongkos sendiriii"
"Yeeee gabisaaaa harus gratiiissssss...hahahaha"
"Hahaha, okeee okee doain makanya"
"iyaiyaiyaiya"
"Jangan iyaiya aja, mana doanyaaa?"
"Iyaaa, semoga Cae bisa mewujudkan segala mimpinya dan diberikan kemudahan untuk mewujudkannya. Semoga nanti kalo sukses bisa ngajak bunda ke Jepaang, aamiiiin"
"Amiiin"
Pembicaraan kami berlanjut dengan penuh tawa. Aku sangat senang. Aku merasa terhibur dengan telepon darinya. Dan sampai pada akhirnya dia menanyakan aku sedang dengan siapa di kostan. Aku menjawab dengan sedih, teman baikku di kost sudah pindah. Lalu aku mulai bercerita tentang kesedihan yang aku alami. Aku menceritakan semua masalah yang terjadi tentang seorang teman. Panjang lebar aku bercerita, dan dia mendengarkannya dengan seksama. Lalu pada akhir cerita, dia berpesan kepadaku,
"Bunda jangan sedih lagi ya, jangan pernah merasa seperti itu lagi. Bunda masih punya banyak teman, Cae juga masih ada"
Entah mengapa, hatiku begitu tenang mendengar kalimat tersebut. Dialah Cae, yang memperkenalkan padaku kalimat "That's what friends are for" Dan kalimat tersebut bekerja padanya. Aku senang bisa bersahabat dengannya. Aku rasa hanya dialah sahabat cowok yang aku punya dan paling pas. Karena dengannya aku merasakan perasaan lain. Perasaan suka yang tidak bisa berubah menjadi "suka", dan perasaan saling menjaga serta peduli. Kami jarang bermasalah. Aku merasa dia menjadi salah satu bagian keluargaku, Muhammad Caesar Saputra :))


aku dan Cae :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar