Jumat, 07 Juni 2013

Tomodachi? (lanjutan)

        Dan dari semua itu, ada yang ingin aku sampaikan. Walaupun aku punya banyak temen, terkadang aku merasa kesepian. Entah kenapa, tapi itu yang aku rasakan semenjak di perkuliahan. Mungkin karena aku jauh dari orang tua dan keluarga.
        Dan akhir-akhir ini, aku merasa sangat sedih. Karena salah satu temanku. Dia mengatakan bebrapa hal yang benar2 membuatku sedih, bahkan ketika mendengarnya aku tidak kuat memegang hp saking bergetarnya tubuhku. Apa yang dia katakan telah membuatku berpikiran apakah temanku yang lain juga mempunyai persaaan yang demikian terhadapku. Hal ini terjadi tanggal 3 juni kemarin. Aah, hari2 yang teracuni. Hati dan pikiranku telah teracuni oleh kata2 tersebut, aku hampir tidak bisa mengingat kebaikan2 yang telah dia lakukan. Seakan kata2 yang dia katakan pada percakapan tersebut membaluti alasan ketidaktulusan dalam berteman denganku. Aku selalu meminta kejujuran.
        Baiklah, memang itu awalnya salahku. Aku sangat salah, salah sekali. Aku mengirimkan beberapa pesan singkat kepadanya tentang apa yang aku alami saat itu, dengan tujuan aku bisa sedikit lega ada yang mengerti tentang apa yang aku rasakan saat itu. Karena dia sendiri yang mengatakan,"...cerita aja, walaupun sedikit, pasti bisa ngeringanin beban..." Tapi, kesalahanku terletak pada waktu. Ya, waktu yang aku gunakan  untuk menceritakan hal tersbut tidak pas, sangat sangat tidak pas. Sehingga terjadilah percakapan yang membuka segala kejujuran apa yang dia rasakan.
        Kejadian tersebut, apalagi kata2 yang terucap dari mulutnya saat itu, membuatku tidak mempercayai lagi apa itu teman. Aku benar2 sedih saat itu, tapi aku tidak bisa menceritakan hal ini pada ortuku, sungguh tidak bisa. Jadi aku menahan ini sendiri. Aku hampir melupakan semua temanku, aku berpikir lagi bahwa tidak ada orang lain yang bisa dipercaya selain keluargaku. Aku merasa benar2 tidaak mebutuhkan teman. Ada satu kalimat dari dia yang membuatku berpikir lebih baik aku mempunyai hewan peliharaan untuk dijadikan teman, daripada manusia! Tapi aku terus larut dalam pemikiranku, aku berdoa agar diberikan ketenangan untuk memikirkan hal ini. Sempat terpikir olehku, aku tida akan lagi berteman dekat dengan dia, karena aku sadar kehadiranku dalam hidupnya mungkin mengganggu.
        Hari-hari berikutnya di kampus, aku benar2 tidak menatapnya. Bahkan dia merasa seperti aku alergi dengannya. Entahlah. Kemudian dia menelponku, membicarakan apa yang telah terjadi. Dia hanya meminta waktu, dan meminta agar aku tidak membencinya. Mudah, aku turuti semua permintaannya. Tapi aku akui, aku masih dingin terhadapnya.
        Yang aku heran, di setiap masalah yang terjadi antara aku dengannya, aku selalu merasa bersalah, dan aku yang terlebih dahulu meminta maaf. Memang, aku tipe orang yang tidak enakan, dan aku tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendir jika suatu  masalah terjadi. Tapi dalam dirinya, aku tidak melihat dia merasa bersalah, keculai ketika aku tunjukkan alasan mengapa aku bertindak seperti itu. Entahlah. Hati orang siapa yang tahu. Yang jelas, sampai saat ini, aku masih belum bisa percaya padanya lagi, walaupun aku sedang mencobanya.
        Dan, jika satu teman meninggalkan kita dengan atau tanpa alasan yang jelas, ketahuilah, kita masih mempunyai banyak teman lainnya yang sudah maupun yang belum kita temui :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar