Minggu, 09 Juni 2013

Kutemukan lagi rasa percaya itu...

Hari ini, aku bangun pukul lima pagi. Aku hanya melihat jam dinding kemudian memeluk guling dan memejamkan mata kembali. Tertidur lagi. Telepon genggamku bergetar hingga membangunkanku. Ada dua pesan dan dua missedcall. Ternyata dari mamaku, tapi belum sempat kuangkat telepon genggamku berhenti bergetar. Tidak lama, teleponku bergetar lagi. Telepon dari mbak Shinta rupanya. Dengan suara yang masih berat, kujawab telepon itu dengan salam. Hampir setengah jam lamanya kami berbincang di telepon, hingga akhirnya putus karena baterai handphoneku hampir habis. Dengan spontan kubaca kembali pesan dari mamaku, yang berisi bahwa dia khawatir akan kesehatanku. Karena semalam aku merasa kurang enak badan, dan menggigil kedinginan. Aku membalas pesan mamaku dengan mengabarkan bahwa aku sudah baik-baik saja. Setelah itu aku membuka koneksi internet di handphoneku. Spontan, handphoneku bergetar sebanyak tiga kali. Ketika kubuka, ternyata ada tiga pesan dari tiga conversations yang berasal dari aplikasi WhatsApp di hpku. Ternyata ada satu balasan dari Desi, yang membalas pesanku mengenai kabar mantan dua kucingku. Dua pesan yang lain dari Kemal dan Taufik. Sempat terjadi salah kirim, aku mempaste pesan yang seharusnya aku taruh di percakapanku dengan Taufik, malah jadi di tempat Kemal.  Lalu aku beranjak dari tempat ternyaman di kamarku, kulihat jam. Ah, sudah pukul setengah delapan rupanya. Aku bergegas menyambungkan kabel pengisi tenaga untuk hpku.

Beberapa saat aku duduk, memandangi seluruh kamarku. "Baiklah, bagian dalam sudah beres." gumamku. Lekas aku keluar kamar mengambil handuk dan mengangkat ember-ember berisi pakaian ke dalam kamar mandi. Aku mandi lalu mencuci baju (aku mencuci baju setiap dua hari sekali, karena tidak suka dengan pekerjaan yang menumpuk). Ahh, air pagi ini terasa sangat segar. Saat aku menyiramkan air ke tubuhku, serasa beberapa semangat masuk ke pori-pori kulitku dan memenuhi suatu tempat di dalam tubuhku. Seusainya, aku bergegas naik ke lantai tiga, tempat kami biasa menggantungkan pakaian-pakaian kami agar bisa kering. Aku memeras baju-bajuku lalu aku sangkutkan di hanger kemudian aku gantungkan di tali yang menyambungkan atap dengan batang kayu. Aku tidak menjemur di bawah atap. Aku memilih menjemur di bawah langit, berharap agar bajuku cepat kering, karena pagi ini langitnya cukup cerah.

Seperti biasa, setiap aktivitas di pagi hari selalu kuiringi dengan menyetel musik di hpku. Lagu-lagu pop Jepang yang biasa menemani pagiku, mereka kuputar dengan playlist "Nihon". Sambil ditemani alunan musik, aku memulai agendaku yang belum tersusun. Kuawali dengan membuka buku catatanku yang berwarna hitam, lalu dari dalamnya kubaca dan kuhafal beberapa kalimat, dengan tujuan agar ujianku hari Selasa dan Rabu depan berjalan dengan lancar. Ketika asyik membaca, hpku bergetar singkat. Menandakan ada sebuah pesan masuk. Ternyata balasan pesan di aplikasi WA dari Kemal. Setelah kubalas, aku melanjutkan membaca, hingga akhirnya kegiatan itu aku sambi dengan balas-balasan pesan. Setelah aku merasa sedikit jenuh dengan membaca, aku melanjutkan ke aktivitas yang lain. dengan lagu yang masih berputar, aku membuka netbook putihku dan menyelesaikan menulis jawaban. Karena rumus yang kompleks dan jumlahnya yang sangat banyak, membuatku malas. Akhirnya kutancapkan modem, dan aku mulai browsing untuk mencari converter yang dapat membantuku menyelesaikan tugas. Setelah kucoba beberapa situs, ternyata nihil semua hasilnya. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan mengetik. Aku punya ide, untuk pergi ke fotokopian dan meminta diconvert di sana.

Ketika aku mau beranjak dari tempatku, tiba-tiba terdengar sesuatu di luar. Hujan! Ternyata hujan deras! Ah, aku berpikir tidak akan bisa menyelesaikan tugas dengan cepat. Ah! Tidak! Aku lupa! Aku bergegas keluar kamar, berlari seperti seorang polisi yang mengejar seorang teroris. Lantai yang licin tidak membuatku takut untuk terus berlari. Tangga yang curam pun aku taklukan. Lalu setibaku di atas, aku ditaklukan dengan serbuan air dari langit. Ah, baju-bajuku sudah basah. Tapi aku tidak akan menyia-nyiakan adeganku tadi. Akhirnya kuputuskan untuk melangkahkan kakiku di medan jemuran. Serbuan peluru-peluru air menghujam tubuhku dari atas, dengan perisai kaos, aku menerobos. Setelah baju-baju terselamatkan, aku kembali menuju markas ternyaman. Dengan kondisiku berlumuran air. Aku lekas ganti baju agar tidak terserang demam. Misi pertama, berhasil.

Oh ya, misi keduaku. Aku berhadapan lagi dengan si putih, dan sejenak mengingat apa yang seharusnya kulakukan. Aku mulai merogoh-rogoh tas, mencari flashdisk. Tidak kutemukan. Aku mencari di atas meja juga tidak ada. Aku berhenti dan berpikir, mencoba mengingat di mana terakhir kuletakkan benda itu. Suara hujan yang semakin deras, desakan untuk menyelesaikan tugas secepatnya membuatku tidak bisa mengingatnya. Baiklah, aku akan meminjam punya temanku saja. Dengan cepat aku menuju ke kamar mbak Arin. Dengan baik hati, mbak Arin mau meminjamkan flasdisknya padaku, dan dia berpesan untuk membelikannya makanan karena dia malas keluar sebab hujan. Setelah diberikannya selembar kertas khusus berwarna hijau padaku, aku bergegas ke kuda mesinku. Kumasukkan koin agar dia bisa berjalan (hahaha, kunci maksudnya). Aku enggan menggunakan mantel, akhirnya dengan semangat yang tidak kalah dengan di medan jemuran, aku berangkat melawan peluru-peluru air yang sudah lemah menyerang. Aku memulai dari tempat yang paling jauh, untuk membeli makan. Setelahnya aku ke tempat fotokopian untuk menyelesaikan misi keduaku. Walaupun hasilnya kurang memuaskan, setidaknya bisa meringankan aku dalam menyelesaikan tugas. Misi kedua, berhasil.

Sepulang dari misi kedua, aku langsung memberikan hak mbak Arin. Setelah itu, aku juga mulai mengisi perutku dengan santai di kamar. Sambil menonton drama serial Bloody Monday (hahahaha, gak bosen2 habis ceritanya seru dan pemerannya ganteng). Setelah tulang-tulang bisa disusun menjadi sebuah karya, aku beranjak ke aktivitas lain. Bukannya langsung menyelesaikan tugas, aku malah membuka jejaring sosial (gangguannya banyak banget yak). Aku seperti biasa, hanya "memantau" sambil sekali-sekali update. Ketika aku membuka Twitter, aku melihat salah satu postingan di Timeline dari seorang temanku yang isinya yaaaa, gak penting sih, sangat ga penting malah. Dengan hormon kepo yang besar, aku membuka profilenya. Aku lihat di Timelinenya, ada beberapa mention dari mantan-mantan pacarnya. Masih dengan hormon kepo yang besar, aku buka profile salah satu dari mereka, inisialnya G. Di biografi si G, ada dua link yang menunjukkan bahwa itu adalah alamat Blog dan Youtube.

Keduanya aku buka. Ternyata Blognya adalah punya teman si G, yang berisi tentang kisah persahabatannya dengan G. Lalu aku buka videonya, juga tentang video persahabatan yang dibuat oleh G. Aku sudah membaca dan menontonnya. Aku begitu tersentuh melihatnya. Aku seketika ingat dengan sahabat-sahabatku di kampus dan sahabat-sahabatku ketika di SMA! Allah memang Maha Penyayang! Dia memberikanku sedikit demi sedikit obat yang dapat membantu meringankan sakit yang sedang kualami. Dengan peristiwa-peristiwa tersebut; kisah di film Bloody Monday, Cae menelpon, mbak Shinta menelpon, Blog dan video yang menyentuh hatiku. Membuatku bisa merasakan lagi kepercayaan pada seorang teman...tidak...seorang sahabat :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar