Selama aku hidup di kota ini, aku mengalami banyak perubahan dalam diriku, dalam pola pikirku. Aku merindukan aku yang dulu. Rasanya seperti bukan aku, seperti sedang menjalankan peran seorang pemberontak. Apa yang aku lakukan selama di sini? Aku begitu bodohnya! Aku melupakan kewajiban-kewajiban yang harusnya aku jalankan. Sesuatu telah membuatku berpaling dari kewajibanku. Ya, kesenangan. Kesenangan sekejap yang telah melumpuhkan aku selama hampir dua tahun di sini.
Aku jauh dari orang tuaku, aku sangat merindukan mereka. Bahkan, aku ingin selalu mendengar omelan mereka yang bisa mengarahkanku pada kebaikan. Ah, tapi aku sudah dewasa, tidak selamanya aku harus diomeli dulu agar bisa benar. Aku sudah harus mengatur diriku sendiri. Perjalanan hidupku di sini menjadi salah satu proses untuk itu semua. Aku tidak boleh menghancurkannya!
Aku begitu beruntung, bahkan sangat beruntung. Dengan memiliki fasilitas yang memadai, dan mempunyai kesempatan yang begitu luang untuk memperbanyak amal baik dan pahala. Harusnya, membuatku tenang hidup di kota ini.
Tapi kesalahanku. Aku selalu memarahi adikku, Dicky, jika dia mendapatkan masalah di sekolah tentang nilai2nya dan perilakunya di rumah. Aku selalu mengatakan, bahwa dia itu salah gaul! Salah memilih teman! Karena temanlah, mereka adala orang yang selain keluarga yang bisa memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Sepertinya hal itu, tidak hanya dialami adikku. Aku. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku bisa saja mencegahnya, tetapi rasa bersalah dan tidak tega selalu mengalahkan itu. Mengapa aku seperti ketergantungan seperti ini?
Aku sudah sempat sadar berulang kali, bahkan jika sudah tidak, aku mencoba sekuat tenaga untuk menyadarkan diri. Ya. Aku sadar, aku tersesat. Aku seharusnya tidak mengambil teman yang salah yang bisa dijadikan sebagai keluarga kedua (mungkin). Aku mengalami yang namanya hilang diri. Seakan tidak bisa mengendalikan diri sendiri, aku lepas. Terbawa alur permainan dunia yang tidak jelas dan berputar-putar. Bahkan emosiku pun menjadi tidak stabil bahkan lebih tidak stabil dari ketidakstabilan biasanya. Aku mudah menangis, mudah sekali menumbuhkan rasa sesak di paru2. Ada apa denganku?
Aku merasakannya, bahwa aku tersesat. Aku merasa jauh dari Tuhanku. Aku terlalu banyak melakukan dosa dan perbuatan yang melanggar, itu yang membuatku seperti ini. Tapi aku selalu takut, dan setelahnya aku meminta ampun kepadaNya. Namun, perasaan itu tidak begitu lama bertahan. Selalu terpancing. Rasanya banyak sekali setan di kota ini. Salahku, kenapa aku tidak menggunakan waktu sebaik mungkin. Salahku mengapa tidak berpikir tentang kehidupan yang kekal nanti. Padahal, dengan cara itu aku mersasa sangat takut untuk berbuat yang tidak sesuai aturan. Namun, akhir2 ini aku jarang berpikir ke situ. Kekuatan setan di kota ini sangat besar! Aku butuh penyegaran! Aku harus keluar dari sungai ini agar tidak terbawa jauh dengan arus.
Hari ini, aku mendengarkan nasehat yang sangat mengena di hatiku. Aku harus segera mengubah hidupku! Menata ulang hidupku! Membuat rencana yang baik untuk ke depannya nanti. Aku harus memikirkan cara untuk hidup yang baik di kehidupan yang abadi nanti. Aku harus meningkatkan rasa takutku kepadaNya! Tidak peduli bagaimanapun, karena hanya Dia lah penyelamat.
Hari ini. Ya, aku menemukan sedikit titik putih. Akan kucari lagi titik2 putih lainnya agar noda2 di kertas dapat hilang. Dan itu harus secepatnya dilakukan, karena hidup di dunia ini tidaklah lama jiuka dibanding di kehidupan yang kekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar